Publish: Senin, 05 Mei 2025 (Pukul 09:10 WIB)
Penyunting: Divisi Litbang UKM Bengkel Kata
Self Control: Solusi atas Quarter Life Crisis
Oleh: Nurul Fadillah
Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Kesehatan mental (mental health) telah menjadi isu global yang semakin krusial, terutama di kalangan generasi muda yang sedang menghadapi berbagai tantangan di era digital. Era yang ditandai dengan akselerasi informasi dan dinamika perubahan yang sangat cepat. Seiring berkembangnya teknologi, ada banyak tekanan yang membuat seseorang merasa cemas dan overthinking. Tak sedikit orang yang sudah tidak mengenali diri sendiri. Frustasi terhadap dirinya sendiri. Melihat postingan di media sosial, langsung membuatnya semakin tak percaya diri. Semacam statement “kok bisa ya dia sukses di usia muda?” dan banyak hal lainnya. Mulai membandingkan diri dengan orang lain.
Salah satu fenomena yang kerap kali dialami oleh dewasa awal adalah QLC (quarter life crisis), yang secara khusus memengaruhi individu pada rentang usia 18-30 tahun. Suatu kondisi krisis identitas dan kekhawatiran akan masa depan. Istilah Quarter Life Crisis pertama kali dikemukakan oleh Alexander Robbins dan Abby Wilner pada tahun 2001. Sebagaimana dikemukakan oleh Robbins dan Wilner, Quarter Life Crisis merupakan periode transisi kritis dari kehidupan akademis menuju dunia professional yang ditandai dengan berbagai gejala psikologis seperti kecemasan, kebimbangan, dan ketidakpastian akan masa depan.
Faktor-Faktor Penyebab Quarter Life Crisis
Adapun faktor-faktor yang memengaruhi quarter life crisis, (Siti Hasmah Fazira, Arri Handayani 2023) yaitu;
- Faktor lingkungan berupa pertanyaan dari orang lain yang dapat membuat beban seperti “kapan nikah?” atau “sudah dapat kerja belum?”. Pertanyaan ini terkesan sederhana namun seringkali menimbulkan tekanan sosial yang signifikan terhadap individu yang sedang dalam masa pencarian jati diri.
- Faktor yang berasal dari dalam diri sendiri. Biasanya masalah yang timbul berupa apa yang dilakukan tidak sesuai dengan harapan. Atau adanya ketidakpuasan dalam mencapai suatu tujuan sehingga muncul perasaan takut gagal. Selain itu, ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap diri sendiri juga dapat menjadi sumber stress yang berkepanjangan.
- Faktor media sosial. Media sosial menjadi tempat untuk memamerkan apa yang dipunya atau pencapaian yang diperoleh. Hal ini dapat membuat seseorang merasa minder dan cemas ketika membandingkan hidupnya dengan “highlight reel” orang lain yang tampak sempurna di media sosial.
- Faktor perubahan zaman. Seiring perkembangan zaman, banyak hal yang juga ikut berubah dan menginginkan semua hal serba cepat, serta ingin dirinya lebih dari orang lain. Budaya serba instan dan tuntutan untuk selalu update dengan tren terbaru sehingga menimbulkan tekanan yang berat.
- Faktor sosial budaya yang sangat berpengaruh berupa orang yang ada di sekitar individu. Jika terus-menerus mendapat tekanan akan menyebabkan hal negative lainnya.
Self Control sebagai Kunci Mengatasi Quarter Life Crisis
Untuk menghadapi krisis tersebut, self control atau pengendalian diri menjadi solusi yang efektif. Self control merupakan kemampuan individu dalam mengendalikan emosi, dorongan dalam diri dan perilaku lain dari dalam diri. Dengan kata lain, self control menjadi keterampilan dasar yang dimiliki individu untuk membentuk pola perilaku di lingkungan yang meliputi aspek kognitif, emosional dan psikomotorik dengan mempertimbangkan moral sosial, nilai-nilai dan aturan serta mengesampingkan reaksi spontan yang telah menjadi kebiasaan agar mengarah pada perilaku yang positif. (Indah Farchina Sari Muzammil, Adnani Budi Utami 2022).
Menurut Nur Eva, Pravissi Shanti, Nur Hidayah, dan Moh. Bisri (2020), self control memiliki hubungan positif dengan kesejahteraan psikologis dan kemampuan adaptasi. Individu dengan self control yang baik cenderung memiliki harga diri lebih tinggi, kepuasan hidup, rasa syukur, optimisme, hubungan interpersonal yang lebih sehat, dan kemampuan mengatasi stres yang lebih baik. Ini merupakan semua aspek yang dibutuhkan dalam mengatasi Quarter Life Crisis.
Strategi Mengembangkan Self Control untuk Mengatasi QLC
Berikut beberapa strategi untuk mengembangkan self control sebagai solusi atas Quarter Life Crisis:
- Mindfulness dan Kesadaran Diri: Praktik mindfulness dapat membantu individu untuk lebih sadar akan pikiran, perasaan, dan reaksi mereka terhadap berbagai situasi. Dengan meningkatkan kesadaran diri, seseorang dapat lebih mudah mengenali gejala Quarter Life Crisis sejak dini dan mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mengatasinya. Menurut penelitian dari Brown dan Ryan (2003), mindfulness memiliki korelasi positif dengan self control dan kesejahteraan psikologis.
- Menetapkan Tujuan yang Realistis: Salah satu penyebab QLC adalah ekspektasi yang terlalu tinggi dan tidak realistis. Dengan menetapkan tujuan yang SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound), individu dapat membangun rasa pencapaian dan mengurangi perasaan gagal. Hal ini sesuai dengan pendapat Locke dan Latham (2002) bahwa penetapan tujuan yang tepat dapat meningkatkan motivasi dan performa.
- Manajemen Media Sosial: Penggunaan media sosial yang bijak merupakan komponen penting dalam self control di era digital. Membatasi waktu browsing, mengurangi tendensi membandingkan diri dengan orang lain, dan memilih konten yang positif dapat mengurangi tekanan psikologis. Penelitian dari Primack et al. (2017) menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan berkorelasi dengan peningkatan depresi dan kecemasan.
- Pengembangan Resiliensi: Resiliensi adalah kemampuan untuk bangkit kembali dari kegagalan dan kesulitan. Mengembangkan resiliensi melalui self control merupakan keterampilan vital dalam menghadapi ketidakpastian yang menjadi ciri khas Quarter Life Crisis. Menurut Masten (2001), resiliensi dapat ditingkatkan melalui pengembangan keterampilan coping dan dukungan sosial yang positif.
- Mempraktikkan Regulasi Emosi: Regulasi emosi adalah komponen penting dari self control. Kemampuan untuk mengenali, memahami, dan mengelola emosi dapat membantu individu menghadapi gejolak emosional yang sering muncul selama QLC. Teknik-teknik seperti deep breathing, journaling, dan cognitive reframing dapat membantu dalam regulasi emosi yang efektif (Gross, 2015).
- Mencari Dukungan Sosial yang Tepat: Self control tidak berarti harus menghadapi semua masalah sendiri. Kemampuan untuk mengenali kapan harus mencari bantuan dan dukungan dari orang lain juga merupakan bentuk self control. Membangun jaringan dukungan sosial yang positif, termasuk teman, keluarga, mentor, atau profesional kesehatan mental, dapat memberikan perspektif baru dan strategi coping yang efektif.
Quarter Life Crisis merupakan fenomena yang umum dialami oleh dewasa awal di era modern ini. Tekanan dari berbagai sumber, baik internal maupun eksternal dapat memicu gejala-gejala psikologis yang mengganggu kesejahteraan individu. Self control hadir sebagai solusi yang komprehensif untuk mengatasi tantangan ini.
Dengan mengembangkan kemampuan self control melalui berbagai strategi seperti mindfulness, penetapan tujuan yang realistis, manajemen media sosial yang bijak, pengembangan resiliensi, regulasi emosi, dan pencarian dukungan sosial yang tepat, individu dapat lebih siap menghadapi ketidakpastian dan tekanan yang menjadi karakteristik Quarter Life Crisis.
Quarter Life Crisis. bukanlah sebuah tanda dari kegagalan, melainkan fase penting dalam perkembangan psikologis seseorang. Dengan self control yang baik, fase ini dapat diubah dari periode krisis menjadi katalisator pertumbuhan pribadi dan profesional. Pada akhirnya, kemampuan mengendalikan diri dalam menghadapi berbagai tantangan hidup tidak hanya membantu individu melewati Quarter Life Crisis dengan lebih baik, tetapi juga mempersiapkan mereka untuk menghadapi tantangan-tantangan kehidupan berikutnya dengan lebih percaya diri dan resiliens.

